Kata maka sering menyertai ungkapan penghubung
antarkalimat, seperti sehubungan dengan
itu maka, oleh karena itu maka, dengan demikian maka, setelah itu maka, jika
demikian maka, sebagaimana terlihat pada contoh-contoh berikut.
(1) Sehubungan dengan
itu maka
suatu penelitian harus dibatasi secara jelas supaya simpulannya terandalkan.
(2) Oleh karena
itu maka
perencanaan penelitian harus disusun berdasarkan observasi lapangan.
(3) Dengan demikian
maka
rencana yang disusun dapat dilaksanakan dengan baik.
(4) Jika demikian
maka
penelitian tidak akan menemukan hambatan.
(5) Setelah itu
maka
peneliti dapat menyusun rencana penelitian tahap berikutnya.
Contoh kalimat itu banyak terdapat dalam ragam bahasa
lisan. Kata maka pada kalimat-kalimat
itu harus ditiadakan dan digunakan tanda koma karena kata maka tidak menyandang
fungsi, atau unsur penghubung antarkalimat itu ditiadakan sehingga kata maka menjadi penghubung antarkalimat;
dan susunan kalimat menjadi gramatikal.
(1) Sehubungan dengan itu, suatu
penelitian harus dibatasi secara jelas supaya simpulannya terandalkan.
(2) Maka, suatu penelitian harus dibatasi secara jelas supaya
simpulannya terandalkan.
(3) Oleh karena
itu, perencanaan
penelitian harus disusun berdasarkan observasi lapangan.
(4) Maka, perencanaan penelitian harus disusun berdasarkan
observasi lapangan.
(5) Dengan demikian, rencana yang disusun dapat
dilaksanakan dengan baik.
(6) Maka, rencana yang disusun dapat
dilaksanakan dengan baik.
(7) Jika demikian, penelitian tidak akan menemukan
hambatan.
(8) Maka, penelitian
tidak akan menemukan hambatan.
(9) Setelah itu, peneliti dapat menyusun rencana
penelitian tahap berikutnya.
(10) Maka, peneliti
dapat menyusun rencana penelitian tahap berikutnya.
Sumber:
Sugono,
Dendy. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: PT Gramedia.